Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Suka dengan konten Maringngerrang.com?
Jika kamu merasa terbantu dengan konten di blog ini, silakan dukung kami melalui Saweria.co/maringngerrang. Dukungan berharga dari kalian semua-lah yang membuat blog ini bisa tetap hadir di hadapan kamu. Terima kasih!

Setapak Jalan Untuk Bernostalgia

Sepintas Jalan Untuk Bernostalgia

Apa kabar Smansa? SMA Negeri 1 Pinrang, sekolah menengah atas yang kerap disebut Smansa Pinrang, sudah lama saya tidak melihat suasana sekolah di hari-hari biasa.

Hari ini untuk pertama kali setelah sekian lama saya bisa melihat suasana disana, ditengah-tengah kesibukan perkuliahan jarang untuk bisa jalan-jalan melihat tempat-tempat penuh kenangan di kota kecil ini.

Sepintas dari luar pagar gedung-gedung itu masih tampak sama seperti 3 tahun lalu, cuma beberapa pohon tampak lebih besar dan sebagian lain sudah ditebang. Tempat parkirnya juga masih seperti dulu, hanya saja lebih padat. Tidak banyak yang berubah dari tempat itu, sama sepertiku, tidak ingin berubah. Masih hangat dalam benakku semua cerita-cerita yang terukir di sekolah yang terletak di Jl. Jend. Urip Sumohardjo No. 2 tersebut. Saya masih bisa mengingat dengan jelas wajah-wajah ingusan mereka.

Ten, bisa ji ku pinjam sweater ta? Isi pesan singkat yang tiba-tiba masuk pada telepon genggamku pada saat pelajaran tengah berlangsung. Sepertinya ekspresi malas pada wajahku seketika hilang, bukan karena pesan singkat itu, tetapi ini menjadi kesempatan untuk bisa keluar kelas sejenak dan bertemu dengannya, keluar dari ruang kelas yang terasa padat dengan pembahasannya tentang pelajaran agama, sekarang adalah jam pelajaran Agama Islam, suara khas guru agama di sekolahku yang dalam namun tinggi, hexos.

Saat berada di depan kelasnya, mengirim pesan singkat untuk memanggilnya keluar, muncullah sosoknya dari ambang pintu.

"Tidak apa-apa ji ini?" dia bertanya dengan wajah semangat lengkap dengan senyum khasnya.

"Tidak ji, cepat mki ada guruku." Jawabku. Wajahnya terlihat berpikir sejenak kemudian mengangguk mengiyakan.

Cepat atau lambat ingatan-ingatan ini mungkin akan terlupakan, tetapi sebelum melupakannya aku ingin menikmati setiap detik yang kujalani bersama bayangan-bayangan itu.

Posting Komentar untuk "Setapak Jalan Untuk Bernostalgia"